You could put your verification ID in a comment muziekindo: Pop Alternative

muziekindo

Your description goes here

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

God Bless
Iwan Fals
SAS Band
free counters

Buku Tamu

Statistic Counter

View My Stats

Halaman

Pengikut

Thumbnail Recent Post

Postingan Populer

Planet Blog

Category List

Koes Plus

Koes Plus adalah grup musik Indonesia yang dibentuk pada tahun 1969 sebagai kelanjutan dari grup Koes Bersaudara. Grup musik yang terkenal pada dasawarsa 1970-an ini sering dianggap sebagai pelopor musik pop dan rock 'n roll di Indonesia. Kelompok ini dibentuk pada tahun 1969, sebagai kelanjutan dari kelompok “Koes Bersaudara”. Grup yang berasal dari Tuban ini menjadi pelopor musik pop dan rock 'n roll, bahkan pernah dipenjara karena musiknya yang dianggap mewakili aliran politik kapitalis.....

Panbers

Panbers adalah satu nama kelompok pemusik yang merupakan kependekan dari Pandjaitan Bersaudara.Kelompok yang dirintis sejak tahun 1960-an dan mulai rekaman di tahun 1971 ini terdiri dari empat orang kakak beradik kandung putra-putra dari Drs. JMM Pandjaitan, S.H, (Alm) dengan BSO Sitompul. Mereka adalah Hans Pandjaitan, Benny Pandjaitan, Doan Pandjaitan dan Sido Pandjaitan. Dengan mengibarkan bendera Panbers, mereka merintis karir mereka di ibukota, mulai dari mengisi acara-acara hiburan di pesta...

The Mercy's

The Mercy's, merupakan salah satu band terhebat di sepanjang masa. Mereka terdiri dari lima anak muda yang berambut gondrong, yakni Erwin Harahap (melody/vokal), Rinto Harahap (bass/lead vokal), Reynold Panggabean (drum/lead vokal), Rizal Arsyad (rhytem/vokal), dan Iskandar alias Bun (keyboard/vokal). Mereka mengusung kisah esensial sejarah dan kenangan yang suka hura-hura, serta berkiblat dengan band-band pesta di Jakarta, seperti, Noor Bersaudara, Ceking, Cruss dan Medinas. Berdiri awal 1969 di....

D'Lloyd

D'Lloyd ini terdiri dari Bartje van Houten (gitar), Sjamsuddin (vokal), Chairul (drum), Totok (bas), Budi (kibor), dan Yuyun (saksofon/flute). Berdiri pada 1969, kemudian rekaman 1972, D’Lloyd (berasal dari kata Djakarta Llyod) tetap awet sampai sekarang. Kumpulan D’LLoyd merupakan kumpulan yang terkenal di era 70-an hingga kini.Lagu-lagunya seperti Keagungan Tuhan, Tak Mungkin, Oh Di Mana, Karena Nenek, Semalam di Malaysia, Cinta Hampa dan Mengapa Harus Jumpa cukup mempesona serta meghiburkan.Kebanyakan....

Favorite's Grup

Favourite's Group adalah tempat berkumpulnya penyanyi, pencipta lagu, dan musisi terhebat di sepanjang masa, seperti A Riyanto, Mus Mulyadi, Is Haryanto, Harry (Santoso) Toos dan Tommy WS. Pemunculannya di blantika musik pop pada waktu itu relatif singkat, tetapi FG mampu mengukuhkan keberadaannya sebagai grup musik yang menjadi favorit dan istimewa di hati masyarakat dan dibicarakan selama dekade ke depan. A Riyanto, pimpinan dari Band 4 Nada, mempunyai gagasan membentuk sebuah grup yang bukan...

Prakata

Selamat datang di Muziekindo...blog ini khusus berisi biografi musisi-musisi Indonesia era 70an - sekarang. Bukan hal yang baru memang, tapi tetap menarik untuk disimak dan di perhatikan. Sekedar untuk melestarikan perjalanan para musisi Indonesia dalam meniti karir mereka. Di tunggu komen-komen brilian dari agan-agan yang telah berkunjung ke blog muziekindo ini...Terima Kasih atas kunjungan anda dan jangan lupa komennya ya....


Derby Alexander

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Pop Alternative. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pop Alternative. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Maret 2013

Ratu "Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu"


Ratu adalah grup duo musik yang personilnya terdiri dari Maia Ahmad dan Mulan Kwok. Posisi Mulan menggantikan personel sebelumnya Pinkan Mambo yang dipecat oleh manajemen Ratu. Lagu Ratu yang populer diantaranya, Baik-Baik Saja, Teman Tapi Mesra (TTM) dan Lelaki Buaya Darat. Album pertama Ratu dirilis pada 2003 dengan singel andalan, Aku Baik-Baik Saja, Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu dan Jangan Bilang Siapa-Siapa.Ratu langsung mendapat sorotan apalagi, vokalis Ratu saat itu Pinkan Mambo mempunyai vokal yang unik. Album pertama mereka bertajuk Bersama juga mendapat sambutan hangat dari publik.


 Album pertama ini menghantarkan mereka menjadi satu-satunya grup musik wanita paling berpengaruh. Pada pertengahan 2003, Ratu diganjar gosip keretakan dan disaat yang sama mereka mendapat penghargaan di ajang Clear Top Ten Awards tapi mereka membantahnya. Ada gosip yang mengatakan bahwa masalah honor yang membuat Pinkan memutuskan mundur dari Ratu. Akhirnya Ratu kehilangan Pinkan yang memutuskan hengkang dari grup itu. Pada awal 2005 Wulan Sari atau Mulan Kwok bergabung melalui sebuah audisi yang dilakukan Maia Ahmad. Pada November 2005, Ratu merilis album kedua yang bertajuk Ratu and Friends. Album ini sukses berat dipasaran dengan singel Teman Tapi Mesra dan Dear Deary. Pada 2006 album ketiga lahir dan langsung terjual 500 ribu kopi di minggu pertama perilisannya.















Minggu, 13 Januari 2013

Naif "Mobil Balap"

Naif adalah grup musik Indonesia yang berdiri pada tanggal 22 Oktober 1995 di Jakarta. Awalnya Naif terdiri dari Emil (Mohammad Amil Hussein, bass), David (David Bayu Danang Jaya, vokal), Jarwo (Fajar Endra Taruna, gitar), dan Pepeng (Franki Indrasmoro Sumbodo, drum) serta Chandra (keyboard). Tahun 2003, Candra keluar karena ingin mengembangkan karier sesuai bidang akademisnya. Band ini terbentuk karena seringnya beberapa mahasiswa IKJ kumpul-kumpul untuk mengerjakan tugas kuliah. Bukannya mengerjakan tugas, mereka malah latihan band. Dengan posisi David pada vokal, Jarwo pada gitar, Chandra pada keyboard, Emil pada bass dan Pepeng pada drum, mereka mulai aktif mengisi acara acara di kampus IKJ. Nama Naif didapat dari pendapat teman mereka, Dodot, yang menilai lagu-lagu mereka terdengar begitu sederhana, namun tetap berisi dan terdengar harmonis. Selain itu, kata Naif pun mudah diingat. Pada tahun 1996, Naif menawarkan demo kaset yang telah mereka buat sebelumnya kepada Bulletin (PT. Indo Semar Sakti) yang berencana akan merilis sebuah album kompilasi. Bukannya berhasil masuk dalm labum kompilasi, perusahaan rekaman tersebut malah menawarkan untuk membuatkan album rekaman sendiri untuk Naif.


 Naif akhirnya masuk dapur rekaman dan berhasil menelurkan debut album NAIF (1998) dengan Mobil Balap sebagai tembang jagoannya. Pada tahun yang sama, mereka mengeluarkan album kedua, JANGAN TERLALU NAIF (1998), disusul album ketiga TITIK CERAH (2002). Pada tahun 2003, Chandra keluar. Namun Naif berusaha untuk tetap bertahan. Naif kemudian mengeluarkan album THE BEST (2005), RETROPOLIS (2005), dan yang terbaru adalah TELEVISI (2007) dengan lagu andalan Dimana Aku Disini. Kurang dari setahun setelah album terakhir, Naif mengeluarkan album inovatif berjudul LET'S GO. Yang menarik, album ini merupakan kumpulan lagu-lagu yang baru direkam, lagu-lagu lama yang direkam ulang dan lagu-lagu yang sudah lama direkam tapi belum sempat dilepas.Yang membuat album ini unik adalah keberanian Naif mendistribusikan album ini secara gratis lewat majalah Rolling Stone sebagai bentuk protes pembajakan. Selain kiprah di bidang musik, Naif mulai merambah bidang tulis-menulis dengan menerbitkan buku Kenapa Kuda Lumping Makan Beling? Dan 61 Pertanyaan Ngaco Lainnya Dijawab oleh Naif. Tak mau menunggu lama, Naif kembali merilis album teranyar, A NIGHT AT SCHOUWBURG yang bertepatan pada ulang tahun Naif ke-13, Oktober 2008. Inovasi tak henti dilakukan oleh Naif. Demi mengurangi pembajakan, album kali ini dijual dalam format Double CD, dan pembeli juga akan mendapatkan t-shirt, pin dan merchandise ekslusif, dan yang uniknya lagi album ini dicetak terbatas hanya 500 kopi dengan nomor seri. Saat ini, personil Naif sedang sibuk mempersiapkan album terbaru mereka, yang akan dirilis pada tahun 2009 dengan titel PLANET CINTA.










Kamis, 08 Maret 2012

Drakhma "Sekejap"

Drakhma adalah nama mata uang resmi yang dipergunakan di Yunani. Oleh Dani Mamesah (drumer) nama mata uang ini lalu menjadi inspirasi untuk nama band yang dibentuknya bersama Dodo Zakaria (piano, keyboards), Gideon Tengker (gitar), Rudy Gagola (bas), Ricky Basuki (vokalis).
Menurut Dani Mamesah, ia mengambil filosofi mata uang sebagai sesuatu yang memiliki nilai. Nilai itu kemudian bermetafora sebagai sebuah kelompok musik yang senantiasa menyajikan musik-musik bernilai terjaga. Kelompok ini menyertakan konsep musik dengan dukungan instrumen tiup atau brass section. Drakhma memang didukung tiga orang seksi tiup, yaitu Wawan Tagalos (trombone, flute) yang juga dikenal sebagai personel New Rollies, lalu ada Chalik (saksofon) dan Eddy (terompet), serta empat penyanyi latar, masing-masing Uce Anwar, Eva Diana Sari, Christine Budiardjo, dan Daisy Maengkom. Konsep musik Drakhma sebetulnya eklektik. Ada pop, ada jazz, R&B hingga sedikit blues. Ini mungkin berkaitan dengan latar belakang para pemusiknya yang cukup beragam. Dodo Zakaria, yang pernah terlibat dalam berbagai grup rock dan jazz memiliki kontribusi tersendiri. Dodo Zakaria sempat membentuk Bina Musika Band bersama Erwin Gutawa (bas), Yoyok (saksofon), dan Cendy Luntungan (drum).  Dodo pun sempat bergabung bersama grup rock Ogle Eyes hingga God Bless. Rudy Gagola yang mencabik bass pun lebih banyak berkutat dalam sederet grup rock seperti The Steel, Brotherhood, bahkan sempat menggantikan kakak kandungnya, Donny Fattah Gagola, dalam God Bless. Di awal era 1980-an, Dodo Zakaria dan Rudy Gagolla berkarier sebagai pemusik studio, terutama mengiringi sederet artis-artis musik yang dikontrak Jackson Records & Tapes.


Dengan kemampuan musikal semacam ini, tak heran jika Gideon Tengker, Ricky Basuki, dan Dani Mamesah memilih mereka sebagai bagian dari formasi Drakhma yang terbentuk pada tahun 1980. Album perdana bertajuk Hari Esok dirilis pada tahun 1981. Penampilan Drakhma memang menyelinapkan sesuatu yang baru. Mulai dari tatanan musik hingga tema-tema lagu yang mereka sorongkan. Mereka tak hanya terpukau dengan tema asmara sebagaimana galibnya perangai para pemusik yang berkubang di jalur pop. Drakhma mengumandangkan tema cinta Tanah Air seperti "Negeri Surgawi" maupun "Tuhan Memberkati Indonesia". Tapi, di sisi lain Drakhma menyitir kehidupan kaum papa, semisal pada lagu "Buruh". Ricky Basuki, sang vokalis utama, juga mencuatkan warna vokal yang berkarakter. Ricky lebih banyak bereksperimen dengan teknik vokal falsetto tanpa harus mengorbankan artikulasi bernyanyi. Gaya falsetto semacam ini dipopulerkan oleh George Duke maupun Phillip Bailey dari kelompok Earth Wind & Fire. Di album kedua bertajuk Citra Bahagia, Drakhma banyak melakukan eksplorasi dalam tata musik. Musik Drakhma terasa kian berat untuk dicerna kuping awam. Di album ini, Drakhma lebih kental mengadon komposisi bertema jazz, misalnya sebuah komposisi instrumental bertajuk "Kaki Lima" yang bernuansa Brasil. Alur brass section berbaur dengan riuhnya tabuhan perkusi yang memihak ke atmosfer tropikal.


Di lagu ini Drakhma didampingi perkusionis tenar asal Australia, Ron Reeves. Juga, sentuhan biola yang sarat aksentuasi dari Luluk Purwanto menyuguhkan imbuhan musik yang terasa lebih bernas. Meski demikian, Drakhma toh masih menyuguhkan lagu-lagu yang berkonotasi pop seperti "Kemilau" dan "Citra Bahagia". Di sini, penyanyi latar Daisy Maengkom dan Christine Budiarjo mengundurkan diri. Mereka digantikan oleh Rieta Amelia. Di album ketiga bertajuk Tiada Kusadari, musik Drakhma terdengar mengarah ke ragam pop R&B, tetap dengan teknik vokal falsetto yang dilengkingkan Ricky Basuki. Di album yang memuat lagu-lagu seperti "Tiada Kusadari", "Mungkinkah", dan "Sekejap", formasi Drakhma mulai berubah. Deretan penyanyi latar hanya didukung Uce Anwar (kini istri drumer Jelly Tobing) dan Rieta Amelia yang kemudian menikah dengan Gideon Tengker. Barisan pemusik tiup malah diisi oleh pemusik tamu seperti Idham Noorsaid (terompet) dari The Big Kids, Albert Sumlang (saksofon) yang pernah mendukung The Mercy's, serta Nano Tirta (flute). Album ketiga ini juga merupakan album terakhir dari Drakhma. Para personelnya mulai bercerai-berai dengan kesibukan masing-masing. Dodo Zakaria aktif memperkuat God Bless dan sibuk menjadi penata musik serta pencipta lagu. Ricky Basuki dan Dani Mamesah membentuk kelompok baru dengan nama Niagara. Rita Amelia bersolo karier. Gideon Tengker membentuk trio rock TAG bersama Teddy Sujaya (drum) dan Arthur Kaunang (bas) serta trio JAG bersama Jelly Tobing (drum) dan Arthur Kaunang. Wawan Tagalos kembali mendukung The Rollies. Sejak itu Drakhma hanya tinggal nama belaka.







Selasa, 28 Februari 2012

Guruh Soekarno Putra "Zamrud Khatulistiwa"

Guruh Soekarno Putra lahir di Jakarta, 13 Januari 1953 dengan nama Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra. Anak bungsu dari pasangan Ir. Soekarno, presiden Indonesia pertama dengan Fatmawati ini, dikenal sebagai seniman dan juga politikus. Sejak usia kanak-kanak, Guruh menyukai kesenian dan sastra. Pada usia lima tahun, dia sudah belajar menari Jawa, Sunda, Bali dan mementaskan tariannya di atas pangung. Pada usia itu juga dirinya membentuk band bocah dan bermain piano. Sementara terkait kehidupan pribadinya, Adik Mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri ini, pernah menikahi seorang penari asal Uzbekistan, Sabina Guseynova pada 20 September 2002 di Tashkent, Uzbekistan. Dalam perkawinannya itu, Guruh menyerahkan Al-Quran, Buku Di Bawah Bendera Revolusi dan Buku Otobiografi Presiden Soekarno sebagai mas kawin. Namun perkawianannya tak berusia lama dan kini kembali sendiri.

                                                   

Lama tak terdengar kabar ia menjalin kasih, Guruh pada awal November 2009, tampak mesra ditemani seorang wanita. Adalah Evasari Gabrielle Silalahi, atau biasa dipanggil Eva, sosok wanita selama dua tahun terakhir telah dekat dengannya. Guruh remaja pada 1965 kemudian membentuk band The Beat-G. Namun karena banyak persoalan terkait kehidupannya, Guruh baru bisa merilis album perdananya, Guruh Gipsy pada 1975, yang berisi musik dengan paduan gamelan Bali. Guruh yang penuh ekspresi seni ini, pada 1977, kemudian mendirikan organisasi pemuda, Swara Mahardika. Meski kemudian dibubarkan dan berubah menjadi Yayasan Swara Mahardika pada 1987. Tidak berhenti begitu sja, Guruh kemudian mendirikan PT Gencar Semarak Perkasa (GSP) pada 1989. Ekspresi seninya itu kemudian ditunjukan dalam Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I pada 1979. Kemudian Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra II: Untukmu Indonesiaku dan memproduksi film semi-dokumenter Untukmu Indoensiaku (1980), Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra III: Cinta Indoensia Pagelaran Jakarta Week di Singapura (1984), dan Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno IV: Gilang Indonesia Gemilang (1986).




Selain itu, Guruh juga pernah menggelar pertunjukkan kolosal 'JakJakJakJak Jakarta' dalam rangka ulang tahun Jakarta ke 462 tahun (1989), Pagelaran Kolosal: Gempita Swara Mahardhika dalam rangka 10 tahun Swara Mahardika (1987). Perannya dalam perfilman ditunjukan Guruh di belakang layar, dirinya banyak menjadi ilustrator musik film dan film pertama yang digarap filmnya adalah film ALI TOPAN ANAK JALANAN. Namun dia juga pernah berperan sebagai Sunan Muria dalam film SEMBILAN WALI (1985). Prestasinya diukir dalam bentuk, memenangkan hadiah pertama untuk komposisi lagu berjudul Renjana dalam Festival Lagu Populer Tingkat Nasional 1976, Pernah mewakili Indonesia di World Popular Song Festival di Tokyo Jepang, mewakili Indonesia pada World Populer Song Festival 1987 di Tokyo dan meraih Kawakami Award dan Audience Selections Award dengan lagu Kembalikan Baliku, menang dalam festival lagu popular tingkat nasional 1987 dengan lagu Kembalikan Baliku, dan pernah mendapat penghargaan ilustrasi musik dalam Festival film Indonesia 1978 di Ujung Pandang.







Selasa, 21 Februari 2012

Fariz RM "Sakura"

Fariz Rustam Munaf yang lebih dikenal dengan nama Fariz RM (lahir di Djakarta, 5 Januari 1961; umur 51 tahun) adalah seorang penyanyi dan musikus Indonesia berdarah Minang.  Sebagai penyanyi dan musikus, putra dari pasangan Roestam Moenaf, penyanyi RRI Jakarta, dan Hj. Anna Reijnenberg ini dikenal masyarakat melalui ciptaannya, seperti Barcelona dan Sakura, yang menjadi hits. Sejak kecil Fariz telah diperkenalkan kepada musik. Ibunya adalah seorang pelatih piano. Selain itu, Fariz juga belajar piano pada Sunarto Sunaryo dan Prof. Charlotte Sutrisno JP. Karier bermusiknya dimulai pada usia 12 tahun, saat berteman dengan Debby Nasution dan Odink Nasution, membentuk "Young Gipsy" yang membawakan musik blues dan rock. Selanjutnya, Fariz bekerja sama dengan Addie M.S., Adjie Soetama, dan Iman R.N. untuk membuat operet pada acara perpisahan dan grup vokal sekolahnya. Jalan ke dunia musik profesional mulai terbuka di tahun 1977. Fariz RM bersama Adjie Soetama, Raidy Noor, Addie MS, dan Ikang Fawzi yang merupakan teman sekolah (SMA Negeri 3 Jakarta), mengikuti Lomba Cipta Lagu Remaja yang diadakan radio Radio Prambors Jakarta. Meski hanya meraih juara III, namun tawaran dari berbagai grup band mulai berdatangan.


Fariz melanjutkan kuliah di ITB jurusan Seni Rupa pada tahun 1978. Fariz pun mencoba untuk mengembangkan dan menimba ilmu serta menambah pengalaman dengan bergabung di dua grup musik beraliran rock, Giant Step dan The Rollies. Fariz menjadi musisi pengganti untuk posisi keyboard Giant Step untuk penampilan panggung, dan menggantikan posisi pada drum untuk karya-karya pentas The Rollies. Fariz juga pernah membantu mengiringi kelompok musik dari Bandung pimpinan Harry Roesli, Harry Roesli Kharisma, di tahun 1979. Akhirnya tahun 1980, Fariz merilis album keduanya yang bertajuk Sakura. Di album ini, dengan sistem rekam overdubbed, Fariz memainkan berbagai instrumen, seperti drum, kibor, gitar, bas, perkusi, sendirian. Bisa jadi Fariz terinsiprasi Stevie Wonder atau Mike Oldfield, pemusik yang bermain tunggal dalam sejumlah album rekamannya.  Warna musiknya pun fresh dan groovy. Album ini sukses besar. Fariz kemudian merilis album perdananya yang belum sempat dirilis. Di saat tren musik di negeri ini masih terbuai dalam balada yang mendayu-dayu, Fariz malah menawarkan konsep musik yang danceable ala Earth Wind & Fire dengan penonjolan pada aransemen brass section sebagai aksentuasi dan teknik bernyanyi falsetto. Setahun kemudian, Fariz R.M. membentuk grup Transs, yang personelnya antara lain Erwin Gutawa, pemusik yang sekarang banyak dikaitkan dengan aransemen berbau orkestral. Dengan Transs, Fariz menawarkan konsep musik fusion , yang akhirnya membuat sejumlah grup musik terinspirasi untuk menggarap musik fusion, yang memadukan jazz dan rock. Transs adalah grup yang maunya beridealisme tinggi. Ini terlihat dari kalimat yang tertera pada sampul album Transs, Hotel San Vicente (1981): "pembaharuan musik Indonesia dalam warna, personalitas, dan gaya". Boleh jadi kalimat itu berkonotasi gagah-gagahan belaka. Namun patut diakui, sejak pemunculan Transs, mulailah muncul grup-grup fusion seperti Krakatau, Karimata, Emerald, dan lain-lain.


Pada tahun 1983, Fariz bergabung dengan Iwan Madjid dan Darwin B Rachman membentuk kelompok musik Wow. Mereka bertiga, Iwan (vokal, piano, keyboard), Darwin (bas), dan Fariz (drum) kemudian merilis album bertajuk Produk Hijau. Wow tetap menghadirkan nuansa rock progresif lewat lagu-lagu seperti "Pekik Merdeka", "Armageddon", hingga "Purie". Dhewayani. Setelah debut album dirilis, Fariz RM mengundurkan diri dari formasi Wow. Saat itu, selain bergabung dengan Wow, Fariz juga aktif di kelompok Symphony hingga Jakarta Rhythm Section, serta beberapa proyek album solonya. Setelah itu, Fariz pun terus menelurkan karya-karyanya, baik di Indonesia maupun di Internasional. Selama 25 tahun kariernya sejak tahun 1978 hingga 2003, Fariz telah menghasilkan 20 album solo, 72 album kolaborasi, 18 album soundtrack, 27 album produksi dimana dia berperan sebagai produser dan 13 album internasional yang dirilis di Eropa dan Asia Pasifik.  Di antara lagu-lagu ciptaannya yang terkenal hingga sekarang adalah lagu "Barcelona", "Nada Kasih" (duet dengan Neno Warisman), "Susie Bhelel", "Menggapai Bintang" (Symphony), "Selamat Untukmu" (Jakarta Rhythm Section), dan "Renungan" (Dibayang Dewasa) yang menampilkan duet Fariz RM dengan Marissa Haque. Fariz pernah 'menghilang' sekitar 10 tahun dari panggung musik Indonesia. Untuk membuktikan eksistensinya, Fariz menggelar konser terbesarnya, yaitu Pagelaran Zaman Emas Fariz RM, 21 Agustus 2003 di Plenari Hall, JCC Jakarta. Konser tersebut menghadirkan pula keponakannya Sherina Munaf, Reza Artamevia, Titi DJ, Katon Bagaskara, Warna, /rif, dan Syaharani. Tak hanya itu, Dwiki Dharmawan ditunjuk untuk menggarap komposisi lagu dalam konser tersebut. Meski Fariz tetap memperlihatkan kepiawaiannya, konser tersebut dinilai gagal karena jumlah penonton yang terbialng cukup sedikit (’hanya’ 2000 orang dari kapasitas 5000), juga buruknya sound system yang sangat mengganggu penonton. Selain itu, Fariz dinilai 'terburu-buru', karena setelah menghilang sekian tahun, tiba-tiba muncul dengan konser akbarnya.


 Fariz menggelar konser tunggal yang bertitle Anthology Live Concert, di Rolling Stone Live Stone, Jln. Ampera Raya No.16, Cilandak Timur, Jakarta Selatan, 25 Juli 2008. Pada konser tunggalnya tersebut Fariz berkolaborasi dengan artis-artis muda antara lain adalah Sherina Munaf, Koil, dan White Shoes & The Couples Company. Fariz mengaku pernah kecanduan alkohol dan mengonsumsi narkoba. Bahkan akibat kebiasaannya itu, Fariz divonis menderita kanker liver pada tahun 1996. Kanker itu pula yang membuat tubuh Fariz sekarang terlihat kurus sekali dan dokter menyatakan tubuhnya tak mungkin gemuk lagi.Tahun 2001, Fariz berurusan dengan polisi dengan tuduhan terlibat kasus peledakan bom di Asrama Mahasiswa Iskandar Muda, Manggarai, pada bulan Mei 2001. Fariz dicurigai lantaran ditemukan surat Fariz yang ditujukan kepada Panglima GAM di lokasi ledakan bom.  Enam tahun kemudian Fariz berurusan lagi dengan polisi. Pada dini hari 28 Oktober 2007 ia ditahan polisi dalam sebuah razia di Jakarta dan ditemukan memiliki 1,5 linting ganja seberat 5 gram yang disimpan dalam bungkus rokok. Setelah melalui tes urine, Fariz dinyatakan positif menggunakan narkoba jenis ganja. Dan terancam UU Narkotika dengan ancaman hukuman penjara di atas 5 tahun. Fariz RM akhirnya divonis 8 bulan penjara potong masa hukuman. Hukuman ini lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut 1 tahun penjara. Selain itu, sisa hukuman Fariz juga bakal dihabiskan di Rumah Sakit Melia Cibubur untuk rehabilitasi. Fariz menikah dengan Oneng Diana Riyadini, mantan peragawati asal Semarang, Jawa Tengah pada akhir tahun 1989. Tak terlalu lama menunggu, Fariz-Oneng pun segera dikaruniai momongan. Namun sayang, putri pertama mereka, Ramanitya Khadifa hanya 15 detik menghirup udara dunia karena paru-parunya tidak berkembang. Dua tahun kemudian, pasangan ini pun dikaruniai putri kembar, Ravenska Atwinda Difa dan Rivenski Atwinda Difa yang lahir 26 Oktober 1991. Kemudian si kembar memiliki adik, Syavergio Avia Difaputra lahir 11 September 1998.