Koes Plus adalah grup musik Indonesia yang dibentuk pada tahun 1969 sebagai kelanjutan dari grup Koes Bersaudara. Grup musik yang terkenal pada dasawarsa 1970-an ini sering dianggap sebagai pelopor musik pop dan rock 'n roll di Indonesia. Kelompok ini dibentuk pada tahun 1969, sebagai kelanjutan dari kelompok “Koes Bersaudara”. Grup yang berasal dari Tuban ini menjadi pelopor musik pop dan rock 'n roll, bahkan pernah dipenjara karena musiknya yang dianggap mewakili aliran politik kapitalis.....
Panbers
Panbers adalah satu nama kelompok pemusik yang merupakan kependekan dari Pandjaitan Bersaudara.Kelompok yang dirintis sejak tahun 1960-an dan mulai rekaman di tahun 1971 ini terdiri dari empat orang kakak beradik kandung putra-putra dari Drs. JMM Pandjaitan, S.H, (Alm) dengan BSO Sitompul. Mereka adalah Hans Pandjaitan, Benny Pandjaitan, Doan Pandjaitan dan Sido Pandjaitan. Dengan mengibarkan bendera Panbers, mereka merintis karir mereka di ibukota, mulai dari mengisi acara-acara hiburan di pesta...
The Mercy's
The Mercy's, merupakan salah satu band terhebat di sepanjang masa. Mereka terdiri dari lima anak muda yang berambut gondrong, yakni Erwin Harahap (melody/vokal), Rinto Harahap (bass/lead vokal), Reynold Panggabean (drum/lead vokal), Rizal Arsyad (rhytem/vokal), dan Iskandar alias Bun (keyboard/vokal). Mereka mengusung kisah esensial sejarah dan kenangan yang suka hura-hura, serta berkiblat dengan band-band pesta di Jakarta, seperti, Noor Bersaudara, Ceking, Cruss dan Medinas. Berdiri awal 1969 di....
D'Lloyd
D'Lloyd ini terdiri dari Bartje van Houten (gitar), Sjamsuddin (vokal), Chairul (drum), Totok (bas), Budi (kibor), dan Yuyun (saksofon/flute). Berdiri pada 1969, kemudian rekaman 1972, D’Lloyd (berasal dari kata Djakarta Llyod) tetap awet sampai sekarang. Kumpulan D’LLoyd merupakan kumpulan yang terkenal di era 70-an hingga kini.Lagu-lagunya seperti Keagungan Tuhan, Tak Mungkin, Oh Di Mana, Karena Nenek, Semalam di Malaysia, Cinta Hampa dan Mengapa Harus Jumpa cukup mempesona serta meghiburkan.Kebanyakan....
Favorite's Grup
Favourite's Group adalah tempat berkumpulnya penyanyi, pencipta lagu, dan musisi terhebat di sepanjang masa, seperti A Riyanto, Mus Mulyadi, Is Haryanto, Harry (Santoso) Toos dan Tommy WS. Pemunculannya di blantika musik pop pada waktu itu relatif singkat, tetapi FG mampu mengukuhkan keberadaannya sebagai grup musik yang menjadi favorit dan istimewa di hati masyarakat dan dibicarakan selama dekade ke depan. A Riyanto, pimpinan dari Band 4 Nada, mempunyai gagasan membentuk sebuah grup yang bukan...
Prakata
Selamat datang di Muziekindo...blog ini khusus berisi biografi musisi-musisi Indonesia era 70an - sekarang. Bukan hal yang baru memang, tapi tetap menarik untuk disimak dan di perhatikan. Sekedar untuk melestarikan perjalanan para musisi Indonesia dalam meniti karir mereka. Di tunggu komen-komen brilian dari agan-agan yang telah berkunjung ke blog muziekindo ini...Terima Kasih atas kunjungan anda dan jangan lupa komennya ya....
Camelia Malik tumbuh menjadi bintang besar melalui seni peran film layar lebar, yang memang mengalir dari darah ayahnya, Jamaluddin Malik, seorang sutradara dan pengusaha film. Debut perannya dimulai lewat film RATNA, yang dibintanginya saat usianya masih 16 tahun, bersama aktor Rachmat Kartolo. Menyusul kemudian sejumlah film yang membuat namanya semakin akrab di mata masyarakat, seperti Nada-Nada Rindu, Jaka Swara (bersama Rhoma Irama), Laki-Laki Pilihan, Lorong Hitam, Dalam Sinar Matamu, Mencari Ayah, Pacar Ketinggalan Kereta, Para Perintis Kemerdekaan, Di Bawah Lindungan Ka'bah dan film Gengsi Dong yang dibintanginya bersama Warkop DKI. Perempuan kelahiran Jakarta, 22 April 1955 ini, kemudian mengembangkan bakatnya di dunia tarik suara. Usahanya pun berbuah hasil yang menggembirakan, dalam bentuk sambutan masyarakat dan kesuksesan albumnya di pasaran. Mia, demikian biasa disapa mendapat julukan sebagai Diva Dangdut Jaipong, setelah setiap lagunya memasukkan unsur tarian jaipong, yang memang menjadi hobby-nya.
Mia yang berdarah keturunan Padang-Jawa-Arab ini mengawali karir menyanyi pada 1970-an, saat suaminya saat itu, Reynold Panggabean, mengajaknya menyanyikan lagu karyanya, Colak-colek. Lagu perdana tersebut berhasil melambungkan nama adik tiri dari musisi rock Ahmad Albar itu ke dalam deretan penyanyi top dangdut. Mia yang pernah terpilih sebagai biduanita Melayu terpopuler 1978-1981 itu, secara berurutan kemudian merilis album suksesnya , seperti Raba-raba (1980), Ceplas-ceplos, Gengsi Dong, Wakuncar, Murah Meriah, Colak Colek II dan Rekayasa Cinta (2002). Lagu-lagu tersebut telah menjadi legenda, dan hingga kini masih kerap dibawakan oleh banyak penyanyi. Terkait kehidupan pribadinya, Mia pernah menikah dengan salah seorang personel grup The Mercys, Reynold Panggabean, meski keduannya hanya bertahan selama 12 tahun, dan resmi bercerai pada 2 Maret 1989. Mia kemudian menikah dengan bintang film Harry Capri, yang bertemu saat membintangi film RONA-RONA, sekaligus atas saran penyanyi dangdut Rhoma Irama.
A. Rafiq adalah penyanyi dangdut dan juga bintang akting Indonesia yang populer tahun 1970-an. Pria kelahiran Pekalongan, 5 Maret 1948 itu dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sebagai penyanyi dangdut dengan dandanan ala Elvis Presley. Selain sebagai penyanyi dangdut, A Rafiq sempat bermain dalam film layar lebar bersama dengan sutradara Farouk Afero. Film yang dibintangi pelantun lagu Pandangan Pertama ini di antaranya SI GONDRONG (1971), PENGALAMAN PERTAMA (1977) dan PANDANGAN PERTAMA (1978). Bakat A Rafiq di dunia intertainmen, dilanjutkan oleh anak-anaknya seperti Fadila A Rafiq, Farhad A Rafiq dan Fairuz A Rafiq.
Hartini Erpi Nurjanah (dikenal dengan nama Ikke Nurjanah; lahir di Jakarta, 18 Mei 1974; umur 37 tahun) adalah seorang penyanyi dangdut dan presenter televisi Indonesia. Sampai kini kalau ditanya, mungkin Ikke Nurjanah masih belum percaya kalau ia telah menjadi penyanyi Dangdut yang memiliki suara khas dan dikenal luas oleh public Indonesia. Mungkin karena awalnya ia tidak pernah bercita-cita menjadi penyanyi professional. Ia lebih memilih ingin menjadi seorang guru Taman Kanak-kanak. Sebuah cita-cita yang mulia tentunya. Sulung dari empat bersaudara ini besar dalam lingkungan seni. Ayahnya, Abdul Pihar Tanjung, adalah seorang pemain biola lagu-lagu Melayu Deli. Album perdana Ikke berjudul "Ojo Lali" langsung mendapat respon positif dari masyarakat. Sampai sekarang Ikke telah mengeluarkan belasan album. Lagu-lagu Ikke yang sangat populer di antaranya "Sun Sing Suwe", "Terlena", dan duetnya bersama sang suami (saat itu belum bercerai), "Memandangmu". Penampilan Ikke yang manis dan sopan (untuk ukuran penyanyi dangdut) tidak membuat dirinya tidak "laku". Hal ini malah menjadi ciri khasnya. Ikke menghindari menggunakan pakaian yang norak, goyangan yang seronok dan lirikan yang genit, serta desahan yang merangsang. Meski demikian, Ikke tetap bisa eksis di dunia dangdut.
Terbukti beberapa penghargaan yang telah diterimanya, antara lain Ikke meraih penghargaan AMI (Akademi Musik Indonesia) untuk kategori penyanyi dangdut wanita terbaik 1997, 1998, 1999 dan Penyanyi Dangdut Paling Ngetop SCTV 2002. Tahun 2005 Ikke juga berhasil membawa pulang Piala Suling Emas dalam "Anugerah Dangdut TPI" untuk kategori Penyanyi Wanita Tersohor, mengalahkan Elvie Sukaesih, Inul Daratista, Ira Swara dan Nita Thalia. Dangdut pulalah yang menghantarkan Ikke melanglang ke berbagai daerah bahkan sampai mancanegara. Ia tampil di Asia Live Dream 22 Februari 1998 silam atas undangan stasiun televisi NHK Jepang. Selain menyanyi, Ikke juga menjadi bintang iklan dan presenter. Tahun 1996 ia pernah diminta BKKBN bersama mantan Kepala BKKBN Hayono Suyono untuk membawakan talk show dan menjadi presenter sebuah acara masak memasak untuk stasiun televisi Indosiar. Sedari kecil Ikke telah menyanyi. Namun dirinya menyadari bahwa pendidikan juga sangat penting. Selepas dari SMAN 40 Jakarta, Ikke mengambil program D3 Akademi Manajemen Perusahaan Universitas Jayabaya.
Ia pun menuntaskannya dengan melanjutkan ke jenjang sarjana. Ikke menyelesaikan sarjana ekonomi manajemennya tahun 1998. Sebagai mahasiswa, walau sibuk menyanyi, Ikke juga mengikuti kegiatan kampus. Bahkan ia pernah menjadi bendahara Senat Mahasiswa Akademi Manajemen perusahaan tahun 1994-1995. Dari kegiatan kampus pulalah, Ikke bertemu Aldi. Ikke menikah dengan Renaldi Hutomo Wahab atau Aldi Bragi, salah seorang personel grup musik Bragi pada tanggal 16 Oktober 1998. Sayang pernikahan mereka tak dapat dipertahankan. Dari pernikahan tersebut mereka memiliki seorang anak perempuan, Siti Adira Kinaya.Kemudian Argi bercerai dengan Ikke pada tanggal 3 April 2007.
Cici Faramida, demikian perempuan kelahiran Jakarta, 7 September 1973 ini terkenal sebagai seorang penyanyi dangdut. Cici, yang memiliki nama lahir Hamidah Idham, merupakan putri dari pasangan HM Idris Makmun dan Hj. Rosnaeni. Kakak kandung penyanyi dangdut dan sekaligus pemenang acara adu bakat, KDI (Kontes Dandut TPI) 2004, Siti Rahmawati (Siti KDI) ini sebelumnya adalah penyanyi lagu-lagu qasidah dan gambus, yang memang sejak lama ditekuni keluarganya. Keluarga Cici, memiliki budaya seni yang terus dikembangkan, termasuk memiliki grup musik gambus yang kerap diundang di berbagai acara hajatan. Karenanya tidak salah jika Cici mengawali karirnya sebagai penyanyi qasidah dan tembang gambus. Setelah namanya cukup dikenal, dia pun mulai merambah ke dunia musik dangdut. Selain itu, pelantun lagu Wulan Merindu ini, hingga saat sekarang telah merilis lebih dari 10 album, empat di antaranya adalah album religius.
Album-albumnya banyak melibatkan musisi besar tanah air, termasuk Guruh Soekarno Putra dan Erwin Gutawa. Peraih Anugerah Musik Indonesia (1999) sebagai penyanyi dangdut terpopuler ini, dalam perjalanan karirnya kerap tertimpa gosip kurang sedap. Kegagalannya menjalin asmara dengan Ferry Irawan yang kandas di tengah jalan, semakin mendatangkan gosip adanya pria-pria seperti Guruh Soekarno Putra dan penyanyi dangdut Rhoma Irama, yang mewarnai kehidupannya. Meski akhirnya gosip itu pun tinggal gosip! Selang beberapa lama malang melintang di dunia musik dangdur, Cici mulai jarang tampil di acara on air, tapi ia lebih sering tampil di acara-acara off air di luar daerah. Selain berkecimpung di musik dangdut, Cici juga sempat terlibat dalam pembuatan religi. Saat ini Cici sedang sibuk sedang penggarapan proyek musik terbarunya bersama grup musik 3 Kembang bersama Ikke Nurjanah dan Kristina. Grup trio diva dangdut ini resmi dibentuk pada tahun 2011 tersebut telah berhasil menelurkan single mereka berjudul Goyang Sayang, karya Anang Hermansyah dan Kegagalan Cinta, yang merupakan aransemen ulang dari lagu karya Rhoma Irama.
Iis Laeliyah populer dengan nama Iis Dahlia adalah seorang penyanyi dangdut yang juga pemain sinetron. Perempuan kelahiran Bongas, Indramayu, Jawa Barat, 29 Mei 1972 itu telah menelurkan album-album sukses dan melegenda di telinga masyarakat. Penampilan sebagai bintang diawali saat menjadi bintang tamu acara WAJAH BARU (TVRI, 1995), kemudian berlanjut menjadi bintang tamu PENTAS LENONG. Dari penampilannya tersebut, akhirnya Iis dikontrak untuk rekaman hingga enam album. Album-albumnya di antaranya, JUNED (1989), TAMU TAK DIUNDANG (1990), AIR MATA TIADA ARTI (1990), JANDA KEMBANG (1991), GADIS DESA & SUPIR TAXI (1991), ARJUNA (1992), CINTA YANG TERNODA (1992), DARAH BIRU (1992), IBARAT MENCARI JARUM DI LAUTAN (1993), MATA HATI (1994), PAYUNG HITAM (1995), CINTA BUKAN KAPAL (1996), KECEWA (1997), TANDA CINTA (1998), DITINGGAL KEKASIH (1998). Sementara sebagai bintang sinetron ia telah membintangi, SEPEKAN SINETRON REMAJA TVRI 1991, MATA HATI, SEROJA (13 EPISODE), GARA-GARA, PADAMU AKU BERSIMPUH, MAHA PENGASIH, dan lain-lain. Iis sendiri pernah menikah dengan Dadang Indrajaya, sayangnya pernikahan ini gagal, dan berakibat perceraian, padahal saat itu pasangan ini telah dikaruniai seorang putri, Salsabilla Juwita, yang lahir pada 14 Juni 1998. Iis kemudian bertemu dengan seorang pilot, Satrio Dewandono, dan sepakat untuk menikah pada 3 November 2001.
Dari pernikahan keduanya, Iis dikaruniai anak kedua, Devano Danendra. Dan kini ibu dua anak ini banyak terlibat sebagai juri dan bintang tamu di acara-acara musik dangdut. Lama tak muncul di layar kaca, Iis lebih banyak tampil di acara-acara off air, namun pada bulan April 2009, suara melengkingnya dapat dinikmati dalam lagu Hampa Hatiku. Di lagu ini, Iis digandeng Ungu untuk berkolaborasi. Duetnya dengan Ungu, dianggap sebagai pemanasan oleh Iis untuk kembali aktif di dunia musik dangdut. Di bulan Mei 2009, Iis merilis single teranyarnya, Ajarkan Aku Setia. Gemar bersosialisasi, membuat Iis terbersit untuk memiliki tempat untuk bersosialisasi. Bersama penyanyi Yuni Shara, Iis membuka sebuah resto di daerah Cilandak, Jakarta Selatan yang diberinya nama, My Pancake. Memasuki bulan Ramadhan, Iis kembali meluncurkan album bernuansa religi dengan tajuk AJARKAN. Yang berbeda kali ini, tak ada acara perilisan resmi, tapi Iis menggunakan strategi promo off air untuk mengenalkan albumnya ini. Bersama Ikke Nurjanah, Kristina, Cici Paramida, Evie Tamala, Iyeth Bustami, Ine Cynthia dan Eri Susan, Iis tergabung dalam kelompok musik dangdut D'Duta. Harapannya, lewat D'Duta, mereka bisa memberikan apresiasi dan terobosan di musik dangdut agar semakin berkembang.
Ida Royani dikenal sebagai penyanyi pop dan bintang film yang sering tampil berpasangan dengan (alm) Benyamin Sueb. Lahir di Jakarta, 4 Maret 1955, Ida masuk dalam jajaran penyanyi legendaris Indonesia. Namun demikian sebelumnya, Ida adalah seorang penyanyi country dengan tampilan trendi dengan celana hot pants dan sepatu lars. Lagu countrynya saat itu di antaranya Sepatu Baru dan Gunung Agung.
Karirnya memuncaknya diawali saat bertemu Benyamin S di Studio Dimita, milik pengusaha Dick Tamimi. Dari situlah Ida mendapatkan tawaran menyanyi bersama Benyamin. Dari sinilah lagu-lagu Gambang Kromong dipopulerkan oleh duet Ida Royani dengan Benyamin Sueb, hingga berlanjut ke layar lebar. Ida Royani kemudian menikah dengan musisi rock Indonesia tahun 1979, Keenan Nasution. Kegiatan keluarga kemudian menjauhkan dirinya dari dunia menyanyi dan hiruk pikuk dunia entertaiment.
Orkes Moral Pengantar Minum Racun atau PMR adalah kelompok musik dangdut asal Indonesia yang terkenal pada akhir tahun 80-an. Mereka terdiri dari Jhonny Iskandar (vokalis), Boedi Padukone (gitar), Yuri Mahippal (mandolin + cuk), Imma Maranaan (bass), Ajie Cetti Bahadur Syah (perkusi), Harri "Muke Kapur" (mini drum), dengan pimpinan Jhonny Iskandar yang juga dikenal dengan nama aliasnya Jhonny Madu Mati Kutu. Jhonny Iskandar lebih banyak dikenal oleh masyarakat karena penampilan khasnya yang selalu nyentrik dengan kaca mata berantainya.
Mereka membawakan lagu-lagu yang berlirik humor seperti Judul-judulan dan Bintangku Bintangmu, dan lain-lain. PMR banyak memasukkan unsur humor, maka dari itu PMR tidak salah jika disebut Dangdut Komedi. Aspek komedi ini pula yang membuat mereka mempelesetkan singkatan OM dari Orkes Melayu menjadi Orkes Madun. Mereka juga merupakan salah satu pelopor genre ini di samping OM Pancaran Sinar Petromaks (PSP). Jejak mereka juga banyak diikuti oleh band-band zaman sekarang ini seperti Pemuda Harapan Bangsa (PHB), Kornchonk Chaos, dll.
Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (disingkat OM PSP) adalah grup musik dangdut humor asal Indonesia yang popular pada paruh akhir dekade 1970-an, terutama di kalangan mahasiswa. Grup musik ini seringkali tampil bersama-sama dengan Warkop pada masa jayanya. Selain sering memainkan dan memelesetkan lagu-lagu dangdut popular tahun 1960-an dan 1970-an (misalnya Siksa Kubur atau Seia Sekata), mereka juga dikenal dari lagu-lagu yang diciptakan sendiri, seperti Fatime dan Drakula. OM PSP dapat dianggap pelopor dangdut humor, subgenre yang masih disukai hingga sekarang. Para personel OM PSP di antaranya adalah mahasiswa Universitas Indonesia yang berkampus di Rawamangun, Jakarta. OM PSP yang terdiri atas Ade Anwar,Monos,Omen,Rizali Indrakesumah,Dindin,Aditya,Andra Ramadan Muluk,James R Lapian serta bintang tamu Edwin Hudioro. Kepopuleran mereka diperkuat setelah kerap tampil bersama Warkop dalam program Warung Kopi di Radio Prambors, yang pada saat itu sangat disukai kalangan remaja dan mahasiswa Jakarta. Debut mereka pertamakali tampil di TVRI pada peringatan ulang-tahun TVRI di tahun 1978. Setelah itu, mereka tampil dalam beberapa film yang juga lumayan sukses di pasaran.
Hanya saja, kekuatan mereka adalah pada aransemen musik yang khas dan celotehan lirik lagu yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat. Ketika mereka memplesetkan lagu rakyat Skotlandia My Bonnie dengan irama Melayu, sangat jelas kelihatan proses kreatifnya yang amat tinggi, begitu pula saat mereka menyanyikan salah-satu lagu hits kelompok musik The Beatles (Can't Buy Me Love). Proses kreatif itu yang menjadikan karya-karya mereka sulit ditandingi oleh grup-grup serupa yang muncul pada kurun tahun belakangan. Dalam penampilannya di layar kaca TVRI pada tahun 1978 itu, PSP manggung bersama Dono, Kasino, Indro (Warkop) dan Nanu. Nanu inilah yang dikenal karena lagu Cubit-Cubitan-nya yang berlogat Batak, padahal Nanu berasal dari Jawa Tengah. Munculnya, grup OM PSP ini akan sangat bagus jika dikontekstualisasikan pada zaman ketika pergerakan mahasiswa 77/78 memperoleh momentumnya. Pada saat itu, gerakan mahasiswa sedang gencar mengkritik berbagai ketimpangan sosial. Rojali, salah-satu personel grup PSP berhasil dengan bagus memotret ketimpangan itu dalam lagu Duta Merlin. Lagu yang ringan, yang menunjukkan kesenjangan sosial dan dimulainya era kapitalisasi spasio-stemporal di Jakarta pada lokasi-lokasi tertentu.
Mansyur S atau lengkapnya Mansyur Subhawannur, adalah seorang penyanyi dangdut legendaris Indonesia. Pria pemilik suara merdu ini di kemudian hari juga berkesempatan mebintangi sinetron, meski dengan tetap membawakan karakternya sebagai pedangdut. Lahir di Jakarta, 30 November 1948, pelantun lagu-lagu seperti Zubaedah, Khana dan Rembulan ini merilis album perdananya, Pesan Perpisahan pada 1969.
Suaranya yang khas dan lirik-lirik lagunya yang memasyarakat membuat dia mendapat tempat di hati masyarakat. Bahkan sepanjang tahun 1990-an hingga hingga 2000, ia telah merilis tiga album per tahun. Mansyur juga pernah merilis album beraliran musik Gambus, Sunda, bahkan album lagu pop. Namun demikian, dangdut lebih membawa keberuntungan baginya.
Raden Oma Irama yang populer dengan nama Rhoma Irama (lahir di Tasikmalaya, 11 Desember 1946) adalah musisi dangdut dari Indonesia yang berjulukan “Raja Dangdut“.
Pada tahun tujuh puluhan, Rhoma sudah menjadi penyanyi dan musisi ternama setelah jatuh bangun dalam mendirikan band musik, mulai dari band Gayhand tahun 1963. Tak lama kemudian, ia pindah masuk Orkes Chandra Leka, sampai akhirnya membentuk band sendiri bernama Soneta yang sejak 13 Oktober 1973 mulai berkibar. Bersama grup Soneta yang dipimpinnya, Rhoma tercatat pernah memperoleh 11 Golden Record dari kaset-kasetnya. Berdasarkan data penjualan kaset, dan jumlah penonton film- film yang dibintanginya, penggemar Rhoma tidak kurang dari 15 juta atau 10% penduduk Indonesia. Ini catatan sampai pertengahan 1984. “Tak ada jenis kesenian mutakhir yang memiliki lingkup sedemikian luas”, tulis majalah TEMPO, 30 Juni 1984. Sementara itu, Rhoma sendiri bilang, “Saya takut publikasi. Ternyata, saya sudah terseret jauh.”
Rhoma Irama terhitung sebagai salah satu penghibur yang paling sukses dalam mengumpulkan massa. Rhoma Irama bukan hanya tampil di dalam negeri tapi ia juga pernah tampil di Kuala Lumpur, Singapura, dan Brunei dengan jumlah penonton yang hampir sama ketika ia tampil di Indonesia. Sering dalam konser Rhoma Irama, penonton jatuh pingsan akibat berdesakan. Orang menyebut musik Rhoma adalah musik dangdut, sementara ia sendiri lebih suka bila musiknya disebut sebagai irama Melayu.
Pada 13 Oktober 1973, Rhoma mencanangkan semboyan “Voice of Moslem” (Suara Muslim) yang bertujuan menjadi agen pembaru musik Melayu yang memadukan unsur musik rock dalam musik Melayu serta melakukan improvisasi atas aransemen, syair, lirik, kostum, dan penampilan di atas panggung. Menurut Achmad Albar, penyanyi rock Indonesia, “Rhoma pionir. Pintar mengawinkan orkes Melayu dengan rock”. Tetapi jika kita amati ternyata bukan hanya rock yang dipadu oleh Rhoma Irama tetapi musik pop, India, dan orkestra juga. inilah yang menyebabkan setiap lagu Rhoma memiiki cita rasa yang berbeda. Bagi para penyanyi dangdut lagu Rhoma mewakili semua suasana ada nuansa agama, cinta remaja, cinta kepada orang tua, kepada bangsa, kritik sosial, dan lain-lain. “Mustahil mengadakan panggung dangdut tanpa menampilkan lagu Bang Rhoma, karena semua menyukai lagu Rhoma,” begitu tanggapan beberapa penyanyi dangdut dalam suatu acara TV.
Rhoma juga sukses di dunia film, setidaknya secara komersial. Data PT Perfin menyebutkan, hampir semua film Rhoma selalu laku. Bahkan sebelum sebuah film selesai diproses, orang sudah membelinya. Satria Bergitar, misalnya. Film yang dibuat dengan biaya Rp 750 juta ini, ketika belum rampung sudah memperoleh pialang Rp 400 juta. Tetapi, “Rhoma tidak pernah makan dari uang film. Ia hidup dari uang kaset,” kata Benny Muharam, kakak Rhoma, yang jadi produser PT Rhoma Film. Hasil film tersebut antara lain disumbangkan untuk masjid, yatim piatu, kegiatan remaja, dan perbaikan kampung.
Ia juga terlibat dalam dunia politik. Di masa awal Orde Baru, ia sempat menjadi maskot penting PPP, setelah terus dimusuhi oleh Pemerintah Orde baru karena menolak untuk bergabung dengan Golkar. Rhoma Sempat tidak aktif berpolitik untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya terpilih sebagai anggota DPR mewakili utusan Golongan yakni mewakili seniman dan artis pada tahun 1993. Pada pemilu 2004 Rhoma Irama tampil pula di panggung kampanye PKS. Rhoma iramaRhoma Irama sempat kuliah di Universitas 17 Agustus Jakarta, tetapi tidak menyelesaikannya. “Ternyata belajar di luar lebih asyik dan menantang,” katanya suatu saat. Ia sendiri mengatakan bahwa ia banyak menjadi rujukan penelitian ada kurang lebih 7 skripsi tentang musiknya telah dihasilkan. Selain itu, peneliti asing juga kerap menjadikannya sebagai objek penelitian seperti William H. Frederick, doktor sosiologi Universitas Ohio, AS yang meneliti tentang kekuatan popularitas serta pengaruh Rhoma Irama pada masyarakat. Pada bulan Februari 2005, dia memperoleh gelar doktor honoris causa dari American University of Hawaii dalam bidang dangdut, namun gelar tersebut dipertanyakan banyak pihak karena universitas ini diketahui tidak mempunyai murid sama sekali di Amerika Serikat sendiri, dan hanya mengeluarkan gelar kepada warga non-AS di luar negeri. Selain itu, universitas ini tidak diakreditasikan oleh pemerintah negara bagian Hawaii.
Sebagai musisi, pencipta lagu, dan bintang layar lebar, Rhoma selama kariernya, seperti yang diungkapkan, telah menciptakan 685 buah lagu dan bermain di lebih 10 film.
Pada tanggal 11 Desember 2007, Rhoma merayakan ulang tahunnya yang ke 61 yang juga merupakan perayaan ultah pertama kali sejak dari orok, sekaligus pertanda peluncuran website pribadinya, rajadangdut.com. Pada tahun 2003, Rhoma kembali menjadi sorotan media karena mengkritik Inul Daratista, penyanyi dangdut yang sedang naik daun karena mengandalkan gaya tarinya yang dianggap mesum. Rhoma dengan mengatas-namakan organisasi PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia), menentang peredaran album Goyang Inul yang dirilis Blackboard pada akhir Mei 2003. Pada saat itu Rhoma Irama kemudian dikecam sebagai seorang munafik oleh pendukung Inul.
Juga pada tahun 2003, Rhoma dalam sebuah pengerebekan, tertangkap basah beduaan sedang main kuda-kudaan di apartemen Angel Lelga, sekitar jam 11-4 pagi. Pengerebekan ini banyak ditayangkan media infotainment, dan menjadi permulaan turunnya pamor raja dangdut ini. Kejadian ini disanggah Rhoma dengan berdalih bahwa ia hanya memberikan nasihat dan petuah agar menghindarkan Angel Lelga dari jurang kenistaan, setelah beberapa waktu kemudian Rhoma mengakui bahwa ia sebenarnya telah menikah dengan Angel Lelga.
Pada November 2005, tayangan Kabar-kabari memberitakan Rhoma Irama mengatakan GIGI adalah band frustasi dan tidak kreatif. Komentar tersebut berhubungan dengan kesuksesan album rohani Raihlah Kemenangan yang dirilis GIGI. Menurut Rhoma, album yang sepenuhnya berisi lagu aransemen ulang itu mengesankan kelompok musik tersebut sebagai band yang frustasi dan tidak kreatif. Berita ini kemudian disanggah oleh Rhoma. (Sebenarnya berita ini sudah diralat, setelah Rhoma Irama mengirimkan protes ke meja redaksi RCTI dan manajemen acara infotaintment KABAR-KABARI. Berita ini beredar karena kesalahan narator dalam menanggapi berita tentang pernyataan Rhoma Irama. Dan Rhoma Irama sendiri dengan band GIGI tidak ada masalah dan “santai” saja. Pada Januari 2006, kembali Rhoma di hadapan anggota DPR mengeluarkan pernyataan menentang aksi panggung Inul, dalam dengar pendapat pembahasan RUU Antipornografi antara DPR dan kalangan artis.Rhoma menikahi Veronica pada 1972, seorang wanita Nasrani yang menjadi muslim setelah dinikahinya, yang kemudian memberinya tiga orang anak, Debby, Fikri, dan Romy. Rhoma akhirnya bercerai dengan Veronica bulan Mei 1985.
Sebelum bercerai, sekitar setahun sebelumnya, Rhoma menikahi Ricca Rachim, juga seorang wanita Nasrani yang kemudian menjadi muslim setelah dinikahinya — lawan mainnya dalam beberapa film seperti Melodi Cinta, Badai di Awal Bahagia, Camellia, Cinta Segitiga, Pengabdian, Pengorbanan, dan Satria Bergitar. Hingga sekarang, Ricca tetap mendampingi Rhoma sebagai istri. Mereka mengangkat seorang anak bernama Ridho Irama/Ridho Rhoma (sumber lain yang tidak jelas mengatakan bahwa Ridho merupakan anak kandung Rhoma dari wanita bernama Marwah Ali). Pada tanggal 2 Agustus 2005, Rhoma mengumumkan telah menikahi artis sinetron Angel Lelga secara siri pada 6 Maret 2003, namun hari itu juga ia menceraikannya. Pada saat Rhoma Irama digerebek oleh wartawan di Apartemen bersama Angel Lelga sebenarnya keduanya telah menikah secara siri, otak dibalik pengerebekan tersebut adalah Yati Octavia dan suaminya Pangky Suwito yang juga tinggal di Apartemen Semanggi dan turut hadir bersama wartawan pada saat pengebrekan.