You could put your verification ID in a comment muziekindo: Jazz

muziekindo

Your description goes here

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

God Bless
Iwan Fals
SAS Band
free counters

Buku Tamu

Statistic Counter

View My Stats

Halaman

Pengikut

Thumbnail Recent Post

Postingan Populer

Planet Blog

Koes Plus

Koes Plus adalah grup musik Indonesia yang dibentuk pada tahun 1969 sebagai kelanjutan dari grup Koes Bersaudara. Grup musik yang terkenal pada dasawarsa 1970-an ini sering dianggap sebagai pelopor musik pop dan rock 'n roll di Indonesia. Kelompok ini dibentuk pada tahun 1969, sebagai kelanjutan dari kelompok “Koes Bersaudara”. Grup yang berasal dari Tuban ini menjadi pelopor musik pop dan rock 'n roll, bahkan pernah dipenjara karena musiknya yang dianggap mewakili aliran politik kapitalis.....

Panbers

Panbers adalah satu nama kelompok pemusik yang merupakan kependekan dari Pandjaitan Bersaudara.Kelompok yang dirintis sejak tahun 1960-an dan mulai rekaman di tahun 1971 ini terdiri dari empat orang kakak beradik kandung putra-putra dari Drs. JMM Pandjaitan, S.H, (Alm) dengan BSO Sitompul. Mereka adalah Hans Pandjaitan, Benny Pandjaitan, Doan Pandjaitan dan Sido Pandjaitan. Dengan mengibarkan bendera Panbers, mereka merintis karir mereka di ibukota, mulai dari mengisi acara-acara hiburan di pesta...

The Mercy's

The Mercy's, merupakan salah satu band terhebat di sepanjang masa. Mereka terdiri dari lima anak muda yang berambut gondrong, yakni Erwin Harahap (melody/vokal), Rinto Harahap (bass/lead vokal), Reynold Panggabean (drum/lead vokal), Rizal Arsyad (rhytem/vokal), dan Iskandar alias Bun (keyboard/vokal). Mereka mengusung kisah esensial sejarah dan kenangan yang suka hura-hura, serta berkiblat dengan band-band pesta di Jakarta, seperti, Noor Bersaudara, Ceking, Cruss dan Medinas. Berdiri awal 1969 di....

D'Lloyd

D'Lloyd ini terdiri dari Bartje van Houten (gitar), Sjamsuddin (vokal), Chairul (drum), Totok (bas), Budi (kibor), dan Yuyun (saksofon/flute). Berdiri pada 1969, kemudian rekaman 1972, D’Lloyd (berasal dari kata Djakarta Llyod) tetap awet sampai sekarang. Kumpulan D’LLoyd merupakan kumpulan yang terkenal di era 70-an hingga kini.Lagu-lagunya seperti Keagungan Tuhan, Tak Mungkin, Oh Di Mana, Karena Nenek, Semalam di Malaysia, Cinta Hampa dan Mengapa Harus Jumpa cukup mempesona serta meghiburkan.Kebanyakan....

Favorite's Grup

Favourite's Group adalah tempat berkumpulnya penyanyi, pencipta lagu, dan musisi terhebat di sepanjang masa, seperti A Riyanto, Mus Mulyadi, Is Haryanto, Harry (Santoso) Toos dan Tommy WS. Pemunculannya di blantika musik pop pada waktu itu relatif singkat, tetapi FG mampu mengukuhkan keberadaannya sebagai grup musik yang menjadi favorit dan istimewa di hati masyarakat dan dibicarakan selama dekade ke depan. A Riyanto, pimpinan dari Band 4 Nada, mempunyai gagasan membentuk sebuah grup yang bukan...

Prakata

Selamat datang di Muziekindo...blog ini khusus berisi biografi musisi-musisi Indonesia era 70an - sekarang. Bukan hal yang baru memang, tapi tetap menarik untuk disimak dan di perhatikan. Sekedar untuk melestarikan perjalanan para musisi Indonesia dalam meniti karir mereka. Di tunggu komen-komen brilian dari agan-agan yang telah berkunjung ke blog muziekindo ini...Terima Kasih atas kunjungan anda dan jangan lupa komennya ya....


Derby Alexander

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Jazz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jazz. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 April 2013

Bubi Chen "Best of Me"

Bubi Chen lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 9 Februari 1938. Ia dikenal sebagai seorang musisi jazz asal Indonesia. Oleh ayahnya Tan Khing Hoo, Bubi diserahkan kepada Di Lucia, seorang pianis berkebangsaan Italia, untuk belajar piano saat usianya 5 tahun. Pertama kali belajar piano, Bubi belum bisa membaca, apalagi memahami not balok. Meski demikian. ia bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh Di Lucia dengan baik. Bubi memang sudah terbiasa melihat kakak-kakaknya, Jopie Chen dan Teddy Chen berlatih piano. Ia selesai belajar main piano saat tahun kemerdekaan Indonesia. Selepas itu, Bubi Chen kemudian mengikuti kursus piano klasik pada pianis asal Swiss, Yosef Bodmer. Suatu ketika Bubi Chen tertangkap basah oleh Yosef Bodmer ketika sedang memainkan sebuah aransemen jazz, dan Yosef paham betul bahwa passion Bubi ada di musik jazz. Pada usia 12 tahun, Bubi sudah mampu mengaransemen karya-karya Beethoven, Chopin, dan Mozart ke dalam irama jazz. Ia menilai, musik jazz memiliki kebebasan dalam menuangkan kreatifitas dibanding musik klasik dengan kaidah-kaidahnya sendiri. Setelah itu Bubi mulai mempelajari jazz secara otodidak. Ia mengikuti kursus tertulis pada Wesco School of Music, New York antara tahun 1955-1957.


 Salah seorang gurunya adalah Teddy Wilson, murid dari tokoh swing legendaris Benny Goodman. Bubi menikah dengan Anne Chiang pada tahun 1963 di Surabaya. pasangan ini kemudian dikaruniai empat orang anak. Bubi kemudian tutup usia di Rumah Sakit Telogorejo, Semarang, Jawa Tengah, pada tanggal 16 Februari 2012 dalam usia 74 tahun setelah cukup lama mengidap penyakit diabetes melitus. Bubi Chen dimakamkan di kota kelahirannya di Surabaya. Di Surabaya, Bubi membentuk sebuah grup, The Circle bersama Maryono (saksofon), F.X. Boy (bongo), Zainal (bass), Tri Wijayanto (gitar) dan Koes Syamsudin (drum). Selain itu, bersama Jack Lesmana, Maryono, Kiboud Maulana, Benny Mustapha dan kakaknya Jopie Chen, ia juga tergabung dalam Indonesian All Stars. Kelompok Indonesian All Stars ini sempat tampil di Berlin Jazz Festival pada tahun 1967, sebelum akhirnya mereka merilis album DJANGER BALI, yang kini menjadi barang langka dan dicari-cari.


 Album ini digarap bersama seorang klarinetis ternama asal Amerika Serikat, Tony Scott. Bubi juga pernah membuat rekaman jazz bersama Nick Mamahit dan diproduseri Suyoso Karsono atau yang akrab dipanggil mas Yos. Pada tahun 1959, bersama Jack Lesmana, ia membuat rekaman di Lokananta. Rekamannya yang bertitel Bubi Chen with Strings pernah disiarkan oleh Voice of Amerika dan dikupas oleh seorang kritikus jazz ternama dari AS, Willis Conover pada tahun 1960. Ia menyebut Bubi sebagai The Best Pianist of Asia. Dalam usia 22 tahun, Bubi sudah menjadi musisi internasional yang diakui. Bubi juga pernah membentuk Chen Trio bersama saudaranya Jopie dan Teddy Chen pada tahun 1950-an. Dan pada tahun yang sama ia juga bergabung dengan Jack Lesmana Quartet yang kemudian berganti menjadi Jack Lesmana Quintet. Menetap di Surabaya, Bubi Chen pun menularkan ilmu yang dimilikinya. Beberapa musisi yang belajar dari Bubi pun cukup dikenal, antara lain Abadi Soesman, Hendra Wijaya, Vera Soeng dan Widya Kristianti. 


Pada pertengahan tahun 1976, Bubi merilis rekamannya yang berjudul Kau dan Aku, bersama Jack Lesmana, Benny Likumahuwa, Hasan, dan Embong Rahardjo. Selain itu, ada juga dua rekaman lain yang sungguh eksotik, berupa eksperimen jazz dengan beat reog. Sedangkan pada tahun 1984, bersama pemain-pemain jazz seperti John Heard, Albert Heath, dan Paul Langosh, ia membuat rekaman di Amerika dengan tajuk BUBI DI AMERIKA, dan dipasarkan di Indonesia. Bubi Chen telah merilis banyak album, beberapa di antaranya: BUBI CHEN AND HIS FABULOUS 5 , MENGAPA KAU MENAGIS, MR.JAZZ, POP JAZZ, BUBI CHEN PLAYS SOFT AND EASY, KEDAMAIAN (1989), BUBI CHEN AND HIS FRIENDS (1990), BUBI CHEN - VIRTUOSO (1995), JAZZ THE TWO OF US (1996), ALL I AM (1997) dan banyak lagi.


 Karyanya pun dikenal di luar negeri. Radio KFAI 90.3 FM di Minneapolis, KUSP 88.9 FM Santa Cruz di California, Amerika Serikat, menyiarkan tembang dari Bubi Chen dalam acara Global Beat. Pada tahun 2004, ia menerima penghargaan Satya Lencana pengabdian seni dari mantan presiden Megawati. Setahun kemudian, Peter F. Gontha memberikan penghargaan sebagai musisi Jazz Living Legend, pada gelaran Java Jazz Festival yang pertama, kepada Bubi Chen. Ia juga mendapatkan Life Achievement Award dari gubernur Jawa Timur karena dinilai telah memperkenalkan Surabaya ke dunia internasional melalui musik jazz. Penghargaan tersebut diberikan pada gelaran Wismilak The Legend of Jazz yang diadakan pada awal tahun 2010.














Rabu, 23 Mei 2012

Chaseiro "Pemuda"

Chaseiro adalah kelompok musik era akhir 1970-an sampai awal 1980-an. Nama Chaseiro adalah singkatan dari nama depan anggota-anggotanya antara lain, Candra Darusman (vokal, keyboard), Helmi Indrakesuma (vokal), Aswin Sastrowardoyo (vokal, gitar), Edwin Hudioro (flute), Irwan B. Indrakesuma (vokal), Rizali Indrakesuma (vokal, bass), Omen Norman Sonisontani (vokal).[1] Chaseiro mulai dikenal dari kompetisi vokal grup Radio Amigos tahun 1978.





 




Senin, 30 April 2012

Karimata "Paddy Field"

Karimata adalah sebuah grup musik jazz Indonesia yang sering memasukkan unsur musik etnik tradisional Indonesia ke dalam ramuan musiknya. Personilnya terdiri dari Candra Darusman (keyboard), Erwin Gutawa (bass), Denny TR (gitar), Aminoto Kosin (keyboard) dan Uce Haryono (drum, yang kemudian digantikan oleh Aldy dan Budhy Haryono). Candra Darusman sebelumnya sudah dikenal berkat solo albumnya yang cukup sukses di tahun 80’an, yaitu album “Kekagumanku”. Candra juga merupakan salah satu motor dari group yang populer dengan komposisi vokalnya yaitu Chaseiro. Selepas dari Karimata, sempat aktif mengurus royalti dari karya cipta musisi Indonesia dan sejak 2001 menetap di Jenewa. Walaupun terkenal sebagai vokalis solo maupun grup, namun pada album-album awal Karimata, setiap lagu yang ada vokalnya, dinyanyikan oleh bintang tamu. Para personil Karimata hanya memainkan instrumen musik mereka masing-masing. Baru pada album ke tiga akhirnya Candra, Denny dan Aldy (drummer baru) menyumbang vokal mereka di lagu “Melangkah”. Pada tahun 1982 Erwin Gutawa bergabung bersama Uce Haryono dalam grup yang dimotori oleh Fariz RM, Transs. Anggota lain dari Transs adalah Dhandung Sadewa (guitar), Deddy Harris (keyboard), Jundhy Karyadi (keyboard), Hafil Perdanakusuma (flute) , Wibi AK (percussion). Transs sempat mengeluarkan album “Hotel San Vincente” dan proyek “Tembang Remaja 1981″. Erwin Gutawa saat ini lebih dikenal sebagai konduktor dan penata musik untuk musik orkestra. Dengan orkestranya dan aransemennya, Erwin Gutawa adalah orang di balik kesuksesan konser Ruth Sahanaya, Sheila Madjid, Titi DJ dan Kris Dayanti. Sempat mengaransir ulang album legendaris Badai Pasti Berlalu bersama Chrisye. Walaupun album ini beserta konsernya cukup berhasil penjualannya, namun mendapat banyak kritikan khususnya dari kritikus dan pecinta album asli Badai Pasti Berlalu. Album lain yang pernah dibuat adalah Tribute to Koes Bersaudara Plus dan Rockestra (2006), sebuah album lagu-lagu rock Indonesia dari masa ke masa yang dinyanyikan ulang dan dimainkan oleh London Symphonic Orchestra.


Aminoto Kosin, lulusan dari Berklee College of Music, dulu sempat membuat lagu “Astaga” dan khusus meminta Ruth Sahanaya untuk menyanyikannya. Pada saat itu Uthe belum menjadi penyanyi rekaman terkenal. Aminoto membawa Uthe bersama lagu Astaga ke Aquarius. Setelah mendengarkan Uthe membawakan lagu tersebut, pihak Aquarius memutuskan untuk membuat sebuah album bagi Uthe. Album tersebut menjadi album Indonesia pertama yang dibuat oleh label tersebut. Selepas dari Karimata, Aminoto Kosin sempat menjadi produser dari beberapa rekaman musisi Indonesia seperti Tohpati dan sempat menjadi Music Director untuk tur keliling Indonesia dari Chrisye. Belakangan menjadi konduktor dari sebuah orkestra, dan lebih banyak tampil di kegiatan rohani. Uce Haryono bergabung dengan Denny TR dalam session band dan sering tampil di berbagai acara. Aminoto Kosin, Uce Haryono dan Denny TR juga merupakan anggota dari Twilite Orchestra pimpinan Addie MS.. Nama-nama yang pernah menjadi vokalis tamu Karimata antara lain adalah: Lydia Noorsaid dan Dian Pramana Poetra dalam lagu “Rintangan”. Lagu ini kemudian dinyanyikan ulang oleh Cindy dan Glen Fredly di album debut Cindy. Cindy merupakan vokalis tamu The Groove sepeninggalnya Rika Roeslan. Ramona Purba juga pernah dua kali menjadi vokalis tamu Karimata dalam dua album yang berbeda, di samping Lydia Noorsaid yang juga dua kali menjadi vokalis tamu. Vokalis tamu lainnya adalah Neno Warisman, Katara Singers, La Storia, Harvey Malaiholo, duet Ricky Basuki-January Christy dan Ruth Sahanaya.


Setelah menghasilkan tiga buah album di Pro Sound, Karimata merilis dua album selanjutnya di Aquarius. Pada album kelima sekaligus terakhir Karimata, Jezz (1992),  Karimata mengundang sejumlah musisi terkemuka dari GRP, seperti Lee Ritenour, Phil Perry, Don Grusin, Ernie Watts dan Bob James untuk menjadi bintang tamu. Di album ini, Karimata betul-betul mencoba untuk melebur musik jazz dengan musik etnis Indonesia. Dan hasilnya memang menarik. Album ini diantaranya berisi Take Off to Padang, Seng Ken Ken, Rainy Days and You (dengan vokal dari Phil Perry), dan Paddy Field.Pada album sebelumnya (album  pertama di Aquarius), Karimata juga mengundang musisi GRP yang lain, yaitu Dave Valentin yang terkenal dengan permainan flutenya. Album yang tidak secara spesifik diberi nama ini, di antaranya terdapat lagu “Jangan Salah” lewat vokal Trio Bele’l yang pernah dimainkan pada saat penggantian band pengiring untuk acara Gita Remaja di TVRI. Karimata sempat menjadi band pengiring acara tersebut sebelum diganti oleh Halmahera. Dave Valentin, musisi terkenal dari GRP mengisi flute pada lagu-lagu “Why Not” dan “Kharisma 90”. Selain itu Trio Bele’l dan Embong Rahardjo (Soprano Sax) juga tampil untuk komposisi “Masihkah Tersisa”. Sampai akhir tahun 2006, album pertama, kedua, ketiga dan kelima Karimata telah diremastered dan dirilis ulang dalam format CD.











Jumat, 23 Maret 2012

Mus Mudjiono "Arti Kehidupan"


Mus Mujiono (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 15 Maret 1960; umur 50 tahun) adalah seorang musisi jazz Indonesia. Nono, demikian biasa dipanggil sangat menyukai musik dan menguasai hampir semua alat musik, dari keyboard, drum, gitar, saksofon, kecuali terompet. Nono juga mendapat julukan sebagai 'George Benson Indonesia'. Nono besar di keluarga musisi. Ayahnya adalah musisi keroncong, sedangkan kakaknya, Mus Mulyadi, juga penyanyi keroncong. Sejak kelas enam SD, Nono sudah belajar gitar. Kemampuannya bermain musik sangat memikat, bahkan diusianya yang baru 18 tahun, Nono telah rekaman dengan bandnya, The Hands. Popularitas Nono (Mus Mujiono) terangkat bersama The Hands, grup musiknya. Mereka sangat terkenal terutama dengan lagu "Hallo Sayang". Sayangnya tak lama kemudian, mereka bubar. Nono pun bersolo karir dan sampai menghasilkan tujuh album. Nono belajar jazz dari Jun Sen, gitaris jazz terkemuka asal Surabaya seangkatan Bubi Chen. Dari musisi yang juga pengusaha alat musik itulah ia mulai mengenal berbagai teori jazz. Nono juga belajar privat gitar klasik, agar bisa membaca not balok dengan baik. Pada tahun 1980-an Nono tertarik pada George Benson, karena kesederhanaan permainan gitarnya. Saat itu kebanyakan gitaris ngerock dengan berbagai macam efek aneh-aneh, berbeda dengan George Benson yang hanya memakai mulut saja.


Oleh karena itu, Nono mulai mempelajari teknik scating yang merupakan ciri dari George Benson. Setelah menekuni "jurus-jurus" George Benson, Nono pun mulai dilirik para musisi lain. Nono diajak bergabung dengan Jakarta Power Band. Akhirnya Nono hijrah ke Jakarta yang memang telah menjadi obsesinya. Pada tahun 1995 bersama Glenn Fredly (vokal), Inang Masalo (drum), Yance Manusama (bass), Eka Bhakti (kibor) dan Irvan Chesmala (kibor), berdirilah Funk Section, dengan Nono pada gitar. Mereka membuat album perdana bertajuk "Terpesona". Album ini tidak sukses, begitu juga dengan keberadaan band. Tahun 2004, bersama grup Canizzaro merilis album "Reinkarnasi Canizzaro" yang mengandalkan tembang Seperti Dulu (dengan menghadirkan Trie Utami sebagai bintang tamu). Sampai usianya yang hampir setengah abad, bersama dengan Agus Dhukun, Erren Dwi Pratiwi alias Tiwi KDI 4, Irghi Barens, Vino D Rossy dan Deddy Namoza, Nono tetap ingin berkarya dengan mendirikan A-Dhu Band. Kendati terbilang baru tapi delapan lagu telah disiapkan A-Dhu Band untuk mengisi album perdana mereka. Sebagian lagu dalam album tersebut diciptakan oleh Nono. Judul-judul lagu di album A-Dhu Band antara lain Sedaci, Siti Djainab, Ini Duniaku, Dosa Cinta?, Kejujuran Cinta Agus Dhukun, Ly, @ku Adalah @ku dan Mba Yayu.










Sabtu, 10 Maret 2012

Krakatau Band "Kutemukan"

Krakatau adalah nama sebuah kelompok musik jazz Indonesia. Krakatau, yang namanya terinspirasi dari Gunung Krakatau, dimotori oleh Dwiki Dharmawan dan Pra Budi Dharma. Namun dalam perjalanan karirnya grup musik ini mengalami banyak pergantian personel hingga perubahan genre musiknya. Awalnya Krakatau memainkan jazz, rock dan fusion jazz, namun kini menjadi Jazz-Worldmusic. Sepanjang karirnya Krakatau mengalami tiga kali perubahan besar. Formasi pertama adalah Pra Budi Dharma, Dwiki Dharmawan, Donny Suhendra dan Budhy Haryono. Formasi kedua adalah Pra Budi Dharma, Dwiki Dharmawan, Donny Suhendra, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan dan Trie Utami. Kelompok ini telah melanglang buana ke berbagai negara di Eropa, Amerika, Kanada, Asia bahkan ke Amerika Latin. Krakatau dibentuk pada tahun 1984 di Cipaganti, Bandung atas prakarsa Pra Budi Dharma, Dwiki Dharmawan, Budhy Haryono dan Donny Suhendra. Pada saat itu Pra Budidharma yang piawai dalam bermain bass baru saja pulang dari Amerika Serikat. Dwiki Dharmawan (keyboard) adalah lulusan sekolah musik di Bandung. Budhy Haryono (drum), adalah mantan anggota Jamrock, kini bernama Jamrud dan Donny Suhendra dikenal akrab di kalangan pemusik Bandung sebagai gitaris jazz rock. Mereka bersepakat membentuk sebuah grup musik yang berkiblat pada musik-musik fusion jazz. Pertama tercetus ide dengan menggunakan nama Delta, kemudian Mesopotamia, dan akhirnya pilihan jatuh pada nama Krakatau, yang kebetulan letak geografisnya juga di daerah Jawa Barat sesuai dengan asal grup musik ini dibentuk.  Krakatau memang menentang arus musik pada masa itu, yang kebanyakan di Indonesia didominasi oleh musik-musik rock seperti contohnya El Pamas, Power Metal dan Slank. Juga tren penyanyi-penyanyi wanita yang dikenal dengan julukan lady rocker, seperti contohnya Ita Purnamasari, Nicky Astria, Atiek CB , Nike Ardila dan Anggun C. Sasmi. 


Karena banyaknya penyanyi yang mencuat berasal dari Bandung, maka pada masa itu musisi asal Bandung mulai dijadikan barometer bagi industri musik di Indonesia.  Banyak pihak dari kalangan penyelenggara yang berminat menyelenggarakan festival-festival rock untuk mencari bibit-bibit pemain baru. Uniknya disela-sela itu, masih banyak juga kalangan musisi dan penikmat musik yang berapresiasi pada musik lain yaitu musik jazz. Salah satunya dengan adanya Jazz Corner, suatu acara jazz yang kerap diadakan di Bumi Sangkuriang, Ciumbuleuit, Bandung. Krakatau tampil untuk pertama kalinya di Bumi Sangkuriang. Dengan format awal tanpa menggunakan seorang vokalis. Kehadiran Krakatau terasa membawa warna lain karena memainkan jazz fusion yang pada waktu itu masih tergolong jarang dan tak biasa. Satu-satunya band jazz pendahulunya yang pernah terbentuk asal Bandung adalah D’Marzio. Namun band ini hanya pernah tercatat dalam kurun waktu era tahun 1970-an saja. Dari pojok jazz di Bumi Sangkuriang itu, Krakatau mulai menjadi perhatian musisi muda Bandung. Kemudian grup musik ini mulai berfikir untuk mencari vokalis yang sekiranya cocok untuk Krakatau. Pada awalnya vokalis Krakatau adalah Hari Moekti, seorang vokalis dengan warna rock serak ala Rod Stewart. Namun Hari  Moekti tak berlangsung lama. Kemudian Ruth Sahanaya sempat mendapatkan tawaran untuk mengisi kekosongan pada posisi vokalis. Akhirnya pilihan Pra Budidharma jatuh pada sosok Trie Utami. yang menurutnya menarik dan berbakat, namun waktu itu Trie Utami belum berstatus sebagai seorang vokalis. Ia masih lebih dikenal sebagai pemain piano dan penyiar sebuah radio bersegmen remaja.


Krakatau makin lama makin unjuk gigi, terlihat pada penampilannya pada malam tahun baru 1985, Krakatau menunjukkan permainan terbaiknya saat bermain pada acara Jazz Break di Bumi Sangkuriang. Dalam pertunjukkan itu, Krakatau memainkan jenis jazz fusion ala Miles Davis dan berhasil sukses memikat dan memukau para pengunjung penikmat jazz.
Pada tahun 1986 Krakatau mendapat tawaran rekaman untuk yang pertama kali, tawaran itu datang dari perusahaan rekaman musik Billboard. Namun Krakatau masih memiliki sejumlah kendala, pertama Krakatau belum memiliki lagu sendiri, Ke dua Ruth Sahanaya belum mengiyakan tawaran menjadi vokalis Krakatau. Di kemudian hari, Ruth Sahanaya memilih untuk menjadi penyanyi solo dan menjalin kerjasama dengan Aquarius Musikindo. Beberapa waktu setelah itu Dwiki mencoba menawarkan kembali kepada Trie Utami untuk mengisi kekosongan vokalis di tubuh Krakatau , ternyata Trie yang juga teman kecil dari Dwiki saat belajar musik di Bina Musika, Bandung itu menerima tawaran tersebut. Padahal Trie tidak pernah bercita-cita menjadi penyanyi sebelumnya.
Pada titik awal ini Krakatau akhirnya menyerah pada selera pasar, Budhy Haryono pemain drum Karakatau saat itu memilih untuk keluar, karena Budhy memang tidak pernah berniat membentuk grup musik yang terlalu menuruti pasar. Awalnya Karakatau memang lebih banyak memainkan jazz fusion instrumental seperti Uzeb dan The Yellow Jacket. Untuk persiapan rekaman akhirnya posisi Budhy digantikan oleh Gilang Ramadhan dan penambahan pemain keyboard yang diisi oleh Indra Lesmana. Pada formasi ini akhirnya lahirlah hits single “Gemilang” pada tahun 1986. Album pertama Krakatau ini menjadi kental dengan nuansa musik pop. Tak ada nuansa jazz eksperimental seperti yang mereka impikan sejak pertama dulu.